AKAMIGAS Balongan

Solusi mencetak generasi maju dalam explorasi dan pengembangan

PENGUMUMAN

Gemblengan Pendidikan, Industri & Lapangan


NAMANYA singkat, MASJULI. Kadang ada saja orang y... Read More Detail .......

WASIAT BUKU MERAH


Tak pernah terpikirkan sebelumnya apabila kemudian... Read More Detail .......

Usia 60 Diminta Dirut Padamkan Api Balongan


NAMA Amiroel Pribadi tak bisa dipisahkan dengan k... Read More Detail .......

EVENT AKAMIGAS

KABAR AKAMIGAS BALONGAN

Usia 60 Diminta Dirut Padamkan Api Balongan

NAMA Amiroel Pribadi tak bisa dipisahkan dengan keselamatan kebakaran (fire safety). Sejak terjun di dunia kerja pada 1973 hingga sekarang ini atau nyaris setengah abad kemudian, Amiroel masih bergulat dalam dunia keselamatan kebakaran. Selama perjalanan nyaris 50 tahun di dunia keselamatan kebakaran, tentu sudah banyak kisah yang dilakoni pria berkumis tebal ini. Kepada tim editor yang mewawancarainya secara digital, Ketua Program Studi (Prodi) Fire Safety di Akamigas Balongan ini berkisah sekelumit perjalanan hidupnya dalam menapaki karier di dunia keselamatan kebakaran. Ia bahkan menyebutnya sebagai hobi, bukan pekerjaan atau karier. “Memang pertamanya tidak begitu tertarik. Tapi setelah kita dalami lama-lama kok menyenangkan, jadi seperti menjadi hobi. Menyenangkan kayak hobi,” katanya suatu ketika. Karena hobi itu pula, Amiroel yang kini sudah berusia sepuh, masih membawa kendaraan sendiri dari rumahnya di Cirebon ke kampusnya di Indramayu pulang pergi hanya untuk berbagi pengetahuan kepada para mahasiswanya. Amiroel tampak masih energik dan ‘kekinian’ meski usianya kini 74 tahun. Beberapa tahun lalu, ketika ditemui di kampusnya, rambut Amiroel masih panjang dan dikuncir. Kala itu ia bahkan masih senang touring dengan motor gedenya (moge). Tapi ketika wawancara digital berlangsung, rambutnya sudah dipotong, dan koleksi mogenya sudah tidak ada mengingat usia yang sudah semakin senja. Nekat Melamar K3 Selepas kuliah D3 di instrumentasi di Ganesha atau LIN (Lembaga Instrumentasi Nasional) pada 1973, sebagaimana para sarjana muda pada umumnya saat itu, Amiroel muda berniat bekerja untuk membina masa depan. Suatu hari, ketika membuka harian Kompas, ia melihat lowongan kerja dari Pertamina. Saat itu, Pertamina membutuhkan tenaga kerja untuk dididik sebagai petugas K3. Meski sama sekali tak berlatarbelakang pendidikan K3, Amiroel nekat mengajukan surat lamaran kerja. Gayung bersambut. Bersama ratusan calon pelamar kerja lainnya, ia dipanggil dan menjalani serangkaian tes. Setelah dilakukan seleksi cukup ketat, akhirnya 24 pelamar diterima bekerja di Pertamina, seorang di antaranya adalah Amiroel Pribadi. “Perkenalan dengan K3 terjadi secara tidak sengaja karena ingin mencari kerja. Kebetulan ada di Kompas diperlukan K3 untuk di Pertamina. Dididik untuk jadi orang K3, tapi kita gak mengerti K3. Itu tahun 1973-1974. Kita ikut tes aja yang penting bisa kerja,” ujarnya. Sebelumnya, Amiroel mengaku sama sekali tidak tahu apa itu K3. Motivasinya hanya bekerja untuk mendapatkan uang. Dapat pekerjaan, dapat gaji. Simpel. “Jadi mengenal K3 itu karena tuntutan kerja,” katanya lagi. Begitu dinyatakan diterima, Amiroel dan 23 teman seangkatannya, dikirim ke Plaju, Sumatera Selatan. Di ‘Kawah Candradimuka’ ini lah Amiroel dkk dididik selama 15 bulan untuk menjadi Safety Inspector. Saat menjalani pendidikan inilah, Amiroel berkenalan dengan K3. Saat pendidikan, statusnya belum pegawai dan belum mendapatkan gaji. Ia terus mengikuti pendidikan hingga selesai dan kemudian menjadi pegawai Pertamina dan mendapatkan gaji bulanan. Para lulusan Plaju disebar di operasi Pertamina di seluruh Indonesia. Amiroel sendiri mendapat tugas di PT Badak LNG di Kalimantan. Itu tahun 1975, usai menjalani pendidikan 15 bulan di Plaju. Dari Badak, Amiroel lalu ke PT Arun LNG. Di sini ia dipercaya menjabat sebagai Kepala Fire. Saat itu ia melihat ada kesenjangan antara tugas dan kompetensi. Amiroel kemudian dikirim ke Inggris (UK) untuk memperdalam ilmu Fire safety. Menurut Amiroel, zaman itu, saat Dirut dijabat Ibnu Sutowo, Pertamina banyak memberangkatkan para pekerjanya untuk belajar tentang Safety atau K3 di luar negeri. “Cuma saya yang belajar Fire Safety. Kebanyakan safety saja. Fire safety butuh ketahanan fisik yang kuat dan keberanian,” kata kakek dari 4 orang cucu ini. Usia 60 Diminta Dirut Padamkan Api Sepulang dari Inggris, Amiroel semakin memahami dan menyelami Fire Safety. Ia banyak diminta memberikan training di lingkungan Pertamina. Juga di luar Pertamina. Hal yang menarik sekaligus prestasi, selama bekerja di Pertamina (PT Badak dan PT Arun) hingga purna bakti (pensiun), Amiroel justru tak pernah terjun langsung menangani kebakaran. Sebab selama kariernya memang tidak pernah terjadi accident (kebakaran besar). Untuk kebakaran kecil, ditangani oleh operator setempat. Ayah dua anak ini menangani kebakaran secara langsung justru ketika dirinya sudah purna bakti alias pensiun. Pada 2008, ketika usianya hampir menginjak 60 tahun, kilang Cilacap mengalami kebakaran hebat. Ada 3 tangki yang terbakar. Amiroel pun dipanggil langsung oleh Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina yang saat itu dijabat Ibu Karen untuk datang ke lokasi. Ia bahkan dijemput secara khusus. Kesibukan menangani kebakaran justru terjadi setelah pensiun. Itu karena setelah pensiun, Amiroel mendirikan perusahaan konsultan di bidang fire. Mendesain dan mengaudit fire protection serta sertifikasi kompetensi. Selain sibuk menjadi konsultan, ia pun sibuk mengajar. Amiroel sempat diminta mengajar di Pusdiklat Sungai Gerong selama 4 tahun. Selain di Pusdiklat Sungai Gerong, Amiroel juga mengajar di sejumlah perguruan tinggi. Antara lain UI, Usahid, dan Akamigas Balongan. Di Akamigas Balongan inilah, sejak 2006 Amiroel Pribadi menjadi Ketua Program Studi (Prodi) Fire Safety. Di Indonesia perguruan tinggi yang membuka prodi Fire Safety hanya ada di Akamigas Balongan. Sejak dibentuk pada 2002, peminat prodi Fire Safety sangat besar. Setiap tahun Akamigas Balongan rata-rata mewisuda 100 lulusan D3 Fire Safety. Amiroel memberi alas an kenapa prodi D3 Fire Safety Akamigas Balongan sangat diminati. Pertama, satu-satunya di Indonesia dan kedua, mereka yang kuliah di sini ingin cepat bekerja. Soal daya serap, Amiroel mengakui bahwa banyak perusahaan yang membutuhkan tenaga Fire Safety. Mata kuliah yang diajarkan di prodi Fire Safety Akamigas Balongan memang disesuaikan dengan kebutuhan industri dan sudah sesuai SKKNI. Para lulusannya kini tersebar di seluruh Indonesia. Bahkan hingga ke luar negeri. Tidak sedikit dari mereka yang kini menempati posisi manajer di sejumlah perusahaan. Kegundahan Sang Maestro Dalam kacamata Amiroel, perkembangan fire safety di Indonesia mengalami perkembangan yang luar biasa pesat dalam beberapa dekade terakhir. Terutama menyangkut kesisteman. Tetapi dalam hal implementasi di lapangan, ia merasakan banyak kekurangan sekaligus kelemahan. Amiroel mencontohkan kasus kebakaran yang terjadi di Referinery Unit (Kilang) Balikpapan, Kalimantan Timur pada Minggu (15/5/2022) yang mengakibatkan satu orang meninggal dunia. Ada sesuatu yang salah di tingkat bawah, tingkat implementasi di lapangan. Termasuk pengawasan dan pemantauannya yang dinilai kurang dan kurang tertata dengan baik. Merujuk ISO 45001, secara kesisteman, manajemen sudah melakukan banyak perubahan. Hanya saja hal ini tidak dibarengi dengan tingkat pengawasan dan pemantauan yang mumpuni. Juga disebabkan oleh kompetensi, sistem pendidikan, dan pengalaman atau jam terbang. Soal gas test misalnya. Dalam pelaksanaannya sekarang ini gas test kebanyakan tidak dilakukan oleh orang-orang yang kompeten di bidangnya. Padahal untuk itu ada ilmunya sendiri, ada pendidikan khusus. Lalu penempatan SDM yang kurang pengalaman atau terlalu cepat dipromosikan. Amiroel mencontohkan dirinya sendiri yang menjadi Safety Inspector harus melalui pendidikan selama 15 bulan. Tetapi sekarang begitu cepat orang menjadi Safety Inspector. Begitu pula menjadi Supervisor. Setelah menjalani pendidikan selama 15 bulan, butuh waktu tiga sampai empat tahun untuk menjadi Supervisor. Tetapi sekarang, baru lulus D3 langsung jadi Supervisor. Secara keilmuan tidak diragukan, tetapi secara pengalaman masih dipertanyakan. Sehingga eksposur, pemaparan, ketelitiannya, kurang. Hal ini berimbas pada tingkat implementasi yang kurang di lapangan. Soal regulasi, sudah lebih baik dibanding dulu. Hanya saja kurang up-date. Tidak seperti lingkungan, yang cepat diup-date. Updating regulasi cukup penting dalam upaya mengimbangi dan mengantisipasi perkembangan zaman yang begitu cepat berubah. Selain regulasi, Amiroel juga menyimpan kegundahan terhadap perhatian pemerintah terhadap keselamatan kebakaran yang dinilainya kurang dan lemah serta terdapat mindset yang kurang tepat. Pemadam kebakaran masih dianggap sebagai tukang semprot, tukang memadamkan api. Padahal fungsi utama dan pertama instansi pemadam kebakaran adalah mencegah (preventif) dan bukan menanggulangi (kuratif). Mindset yang kurang tepat ini berimbas pada kinerja petugas di lapangan. Mereka cuma nunggu laporan. Begitu ada panggilan, baru jalan dan melakukan tugas pemadaman api di lokasi yang dilaporkan. “Habis nyemptot, sudah, kembali ke kantor. Prevention-nya tidak ada,” kata Amiroel. Dalam hal kompetensi, petugas pemadam kebakaran di Indonesia mayoritas tidak memiliki latar belakang khusus tentang fire. Mereka direkrut berdasarkan penempatan hasil seleksi CPNS (calon pegawai negeri sipil). Mereka baru mendapatkan pelatihan dan pengenalan tentang fire ketika sudah ditempatkan. Tetapi lebih banyak pelatihan mengenai penanggulangan ketimbang pencegahan. Yang penting ototnya kuat untuk memegang selang. Padahal, fire itu ada ilmunya tersendiri. Masalahnya, mereka disuruh menghadapi bahaya tapi ilmunya tidak diberikan. Tanggung jawab petugas pemadam kebakaran itu sangat besar, dengan segala kekurangannya. Mereka mempertaruhkan nyawanya sendiri. Tetapi apresiasi terhadap para petugas pemadam kebakaran masih kurang. Standar untuk kebakaran, dari pertama kali menerima laporan hingga datang ke lokasi dan menyemprotkan air, hanya 15 menit. Ketika mendapat lokasi yang jauh atau lokasinya berada di pemukiman padat atau area yang padat lalu lintas sehingga menyebabkan keterlambatan, mereka justru yang disalahkan dan jadi sasaran kemarahan masyarakat. Padahal, ini menyangkut fire system. Ada kalkulasinya, dan yang menentukan atau membuat kebijakan itu Pemda. Masalah pencegahan, sangat kurang mendapat perhatian. Mindset yang kurang tepat ini berimbas ke masyarakat. Jika terjadi kebakaran di lingkungan pemukiman, masyarakat cenderung menghubungi petugas pemadam kebakaran. Masyarakat tidak mendapat pengetahuan yang cukup untuk mencegah terjadinya kebakaran, minimal di rumahnya sendiri, sehingga ketika terjadi kebakaran, masyarakat sama sekali tidak memiliki persiapan. Mindset harus segera diubah dan dibenahi. Di perkantoran atau gedung-gedung, Amiroel menyoroti soal lemahnya pengawasan. Sebagai auditor, Amiroel banyak menjumpai gedung di Jakarta yang telah melengkapi diri dengan sistem proteksi aktif kebakaran tetapi ketika dicek, ternyata kurang memadai. Misalnya ketersediaan air kurang, pompa tidak bisa hidup alias tidak berfungsi, dan sebagainya. Jika di gedung tersebut ada petugas K3- nya, maka biasanya bagus kondisinya. Tetapi jika tidak ada petugas K3-nya, maka kondisinya amburadul. Tidak ada yang memperhatikan, meski sistem proteksi aktif kebakaran sudah terpasang. Juga tidak ada yang melakukan pengawasan. Kelengkapan pemadam kebakaran di gedung-gedung hanya sekadar pemenuhan peraturan saja bukan kebutuhan. Kalaupun ada perlengkapan pemadam kebakaran, tidak sedikit juga yang tidak dilengkapi dengan SDM yang kompeten. Situasi ini diperparah dengan tidak banyak yang memahami mengenai aturan instalasi listrik. Karena kurangnya pengetahuan ini, sering terjadi pihak pemilik atau pengelola gedung mempercayakan begitu saja pemasangan instalasi listrik kepada pihak ketiga tanpa pengawasan. Untuk kapasitas tertentu seharusnya menggunakan kabel dengan ukuran sekian, misalnya 2 mm, tetapi yang digunakan justru yang 1 mm. Kabel yang tidak sesuai standar tentu akan memicu terjadinya kebakaran, sebab kabel tersebut tidak akan kuat menahan beban arus listrik. Pemerintah memang sudah lama menerbitkan Peraturan Umum Instalasi listrik (PUIL). Sudah lengkap dan sudah detail, tapi ya hanya berupa buku. Yang baca paling instalatur listrik, yang lainnya masyarakat secara umum tidak tahu. Karena itu pada waktu memasang instalasi listrik di rumah baru, itu diberi tanda instalasi listrik. Tidak boleh kita masang sendiri. Kita kan tidak tahu dipasangnya benar atau tidak. Dan itu harusnya dari PLN atau pihak yang berwenang untuk hal itu. Jika tidak ya Depnaker, yang membawahi instalasi listrik. “Sosialisasi itu kurang sekali, tidak pernah ada,” Amiroel menegaskan. Kebakaran jangan dianggap musibah. Ini mindset yang harus segera diubah bahwa kebakaran bukan musibah, tetapi harus dicegah jangan sampai terjadi. Mindsetnya harus diganti dengan kata-kata bahwa kebakaran bisa terjadi kapan saja melanda bangunan yang sekarang ditinggali. Dengan mindset demikian, maka setiap orang akan merasa selalu siaga dan siap menghadapi ketika kebakaran terjadi. Ada tiga hal yang mesti dipersiapkan yaitu hardware (peralatan pemadam kebakaran), software (prosedur), dan man (SDM yang kompeten). “Jadi ketika terjadi kebakaran sudah siap semua alatnya, prosedurnya ada, dan orangnya ada. Jadi langsung ada actionnya sehingga kerugiannya bisa diperkecil. Itu saja prinsipnya,” katanya. Namanya pre fire training (perencanaan kebakaran sebelum kebakaran). Jadi ada skenario. Misal di kilang minyak, kebakaran tangki nomor 1, itu sudah direncanakan; nanti kalau tangki nomor 1 kebakaran, fire truck berhentinya disini, foamnya perlu 30 Liter, lalu dibutuhkan 100 orang misalnya. Semuanya harus direncanakan dan disiapkan dengan berbagai skenario, sehingga dampak dan kerugiannya bisa diminimalisir. Hal lainnya yang juga penting adalah bahwa hingga sekarang ini Indonesia belum memiliki undang-undang yang secara khusus mengatur soal kebakaran. Selama ini kebakaran masuk dalam UU tentang Penanggulangan Bencana (UU No 24 tahun 2007). Di situ disebutkan bencana industri, tetapi tidak dijelaskan dan diatur secara rinci. Berbeda dengan bencana alam yang dijelaskan secara rinci dalam undang-undang tersebut. UU Kebakaran mendesak untuk dibuat. Sekarang ini jika terjadi kebakaran, pertanyaannya selalu ‘berada di bawah kewenangan siapa?’ Ini yang selalu menjadi masalah. Di bawah Kementerian PUPR kah, Kemnaker kah, atau Kemendagri? Amiroel berharap fire safety Indonesia bisa lebih maju lagi. Sekarang ini ibaratnya seperti dianaktirikan, sehingga tidak ada improvement, tidak ada inovasi. Semoga menjadi lebih baik ke depan, baik regulasi, kesisteman, pendidikan, kompetensi, dan sebagainya.

  • 2022-07-05 01:36:51

Latest News

Usia 60 Diminta Dirut Padamkan Api Balongan

  • 2022-07-05 01:36:51
NAMA Amiroel Pribadi tak bisa dipisahkan dengan k... Selengkapnya....

WASIAT BUKU MERAH

  • 2022-07-05 01:37:51
Tak pernah terpikirkan sebelumnya apabila kemudian... Selengkapnya....

Gemblengan Pendidikan, Industri & Lapangan

  • 2022-07-05 01:58:08
NAMANYA singkat, MASJULI. Kadang ada saja orang y... Selengkapnya....

Selayang Pandang Akamigas Balongan


Pendidikan merupakan salah satu persyaratan utama untuk mencapai kemajuan masyarakat dan bangsa. Pendidikan tinggi mempunyai fungsi strategis untuk memajukan ilmu pengetahuan ,teknologi dan seni. Pendidikan tinggi berperan dalam membina serta mengembangkan mutu sumber daya manusia yang handal dan keunggulan yang kompetitif.

Akademi Minyak dan Gas Balongan (AKAMIGAS Balongan) sebaai pendidikan tinggi memiliki peran dalam usaha pengembangan sumberdaya manusia khususnya di bidang migas

Akamigas balongan merupakan lembaga pendidikan tinggi yang senantiasa menyelaraskan antara ilmu yang didapat dikelas dengan teknologi yang berkembang di industri. Hal ini terbukti lulusan AKAMIGAS Balongan mudah terserap di pasar kerja.

PROGRAM STUDI

Card image cap
TEKNIK PERMINYAKAN

Memahami permasalahan bidang perminyakan, Dapat mengetahui proses pengolahan Minyak, mulai dari tahap Pengeboran hingga Refinery, Dapat mengembangkan ilmu dibidang perminyakan demi kesejahteraan masyarakat atas perkembangan ilmu pengetahuan.

Kunjungi
Card image cap
FIRE & SAFETY

Mengerti tentang kegiatan industri dibagian lingkungan kesehatan kerja dan keselamatan kerja, Mampu dan terampil dibidang safety audit, Mampu dan terampil dibidang pemadaman api dengan apar air, Mampu dan terampil dibidang safety talk.

Kunjungi
Card image cap
TEKNIK KIMIA

Mencetak tenaga kerja yang mengerti tentang aneka industri, Mencetak tenaga kerja yang mampu dan terampil dibidang proses industri.

Kunjungi

KERJA SAMA

Contact

Hubungi kami jika ada kritik, saran atau informasi yang belum tersampaikan, kami siap untuk memberi yang terbaik.

Location:

Jl. Soekarno Hatta, Pekandangan,Indramayu, Jawa Barat 45216

Call:

(0234) 272-448